Alhamdulillah, Nomor IM3 Aktif Kembali

•March 24, 2012 • Leave a Comment

Semua teman, saudara, kawan, sahabat Nyo, nomor IM3 085727686015 sudah aktif kembali. Semua transaksi dan komunikasi lewat nomor tersebut kembali. Mentari aktif akan tetapi untuk cadangan darurat sipil ^_^. Suwun 😉

Advertisements

Pemberitahuan Nomor IM3 Sinyo

•January 20, 2012 • Leave a Comment

Dear

Mohon maaf, untuk sementara waktu nomor IM3 Sinyo : 085727686015 tidak aktif dikarenakan ponsel hilang. Kartu chip sudah diurus namun belum ada HP baru. Sementara semua komunikasi saya lewatkan di nomor Mentari : 08153810065.

Mohon maaf jika semua SMS/called yang telah terkirim tidak saya balas karena sudah 2 pekan ini nomor IM3 tidak aktif.

Semoga dibalas dengan kebaikan yang banyak, aamiin 🙂

Wassalam

Nyo

Kisah Nyata III : Aku Bukan Lesbian (P4DWR)

•September 27, 2011 • Leave a Comment

Pengantar :

Sejak mencari data untuk buku Dua Wajah Rembulan, nara sumber wanita yang memiliki SSA (Same Sex Attraction) paling susah dicari. Sinyo mempunyai kenalan satu orang, namun dia tidak dapat disebut sebagai nara sumber karena pembicaraan yang dilakukan tidak ada kaitan secara langsung dengan naskah. Tetapi siapa yang menyangkal tentang keadilan Allah? Saat Sinyo sudah mulai fokus kepada naskah buku yang lain, suatu hari Sinyo dihubungi seorang wanita yang mengaku mempunyai SSA dan ingin berkonsultasi.

Kadangkala apa yang kita cari tiada bertepi, sebaliknya yang tak dinanti bahkan datang sendiri, Allahu Akbar :). Inilah sebagian kisah nyata hidup wanita tersebut seperti yang dituturkan kepada Sinyo via Phone dan message teks. Semoga bermanfaat ^_^

Sebut namaku Bintang (nama samaran yang dipilih oleh nara sumber – pen), seorang gadis berasal dari keluarga mapan penuh kecukupan. Hidup serba menyenangkan, gembira serta indah tidak kurang suatu apa pun hingga suatu saat ketika aku duduk di bangku SLTP terdapat hal yang membuatku jiwaku terusik.

Aku jatuh hati kepada wanita lain yang secara aneh begitu menguasai hidup ini. Awalnya aku dan dia hanya teman biasa saja, namun lambat laun sungguh aku benar-benar menyayangi, mencintai dan ingin selalu dekat dengannya. Wanita yang kucinta tidak pernah mengetahui akan apa yang tersembunyi dalam hati, akupun tidak berani untuk menyatakan rasa cinta tersebut. Hanya dengan melihatnya setiap bertemu di sekolah sudah cukup bagiku.

Karena rasa cinta ini semakin kuat, kuputuskan pindah sekolah guna melupakannya karena aku takut dengan keadaan ‘aneh’ yang bergejolak dalam jiwa. Hampir tujuh tahun aku baru berhasil melupakan wanita yang sepenuh hati kucintai. Masa sekolah kujalani dengan baik-baik saja, bahkan aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri beken di Indonesia. Aku berusaha tak mengingat masa lalu dengan menjalin pertemanan terhadap banyak orang. Tampang yang menarik serta otakku yang cerdas membuat mereka suka kepadaku. Setelah lulus kuliah, aku dengan mudah diterima bekerja yang terakhir di salah satu perusahaan multinasional di negeri ini, punya pacar, tentu saja laki-laki.

Sayang kami putus di tengah jalan, dalam keadaan sepi sendiri dalam dunia kerja, aku mulai berhubungan kembali dengan teman-teman lama, termasuk salah satu wanita yang sudah akrab saat di tempat kerja sebelumnya. Mulanya kami hanya ngobrol biasa lewat telepon akan tetapi hari demi hari perasaan cinta pada dirirnya mulai tumbuhi. Secara alami sebenarnya aku berusaha menolak, akan tetapi ada semacam tantangan yang ingin kulalui yaitu menaklukan temanku yang notabene sudah mempunyai pacar laki-laki.

Entah dia sedang ada masalah sehingga jatuh dalam pelukanku atau diriku yang pantang menyerah sehingga akhirnya kami berdua melakukan hubungan yang tidak selayaknya terjadi antar wanita. Cukup lama kami berdua menikmati kegiatan ‘aneh’ tersebut hingga suatu saat kami berdua sadar bahwa semua yang kita lakukan ‘salah’. Kemudian kami berpisah dengan cara yang menyakitkan.

Aku berusaha melupakannya dan ingin hidup sebagai seorang muslimah yang baik, akan tetapi ke manakah aku harus mengadu pilu ini, kepada siapakah aku harus bertanya? Hingga suatu saat ketika browsing mencari solusi, kutemukan website unik yaitu http://www.hijrah.web.id yang merupakan website resmi milis hijrah_euy, komunitas muslim yang memiliki SSA akan tetapi ingin hidup di jalan Allah. Dari sanalah aku mengenal mas Sinyo, penulis buku Dua Wajah Rembulan. Kuberanikan diri SMS, walau tegang dan malu tetapi aku yakin akan kutemukan jawaban yang bermanfaat darinya. Alhamdulillah, tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, ternyata mas Sinyo selain lucu dan kocak juga berwawasan luas tentang dunia ini.

Sebenarnya aku ingin bertemu langsung, akan tetapi karena sibuk urusan kantor dan mas Sinyo sendiri juga tidak mungkin datang ke kotaku maka komunikasi banyak kulakukan lewat telepon. Kadangkala aku sampai malu sendiri kepada mas Sinyo, karena SMS tidak pandang waktu, bahkan pernah aku berjanji untuk curhat namun ketiduran dan dia menungguku hingga larut malam. Saat mas Sinyo kutunjukkan wajahku, dia sama sekali tidak percaya kalau diri ini mempunyai SSA. Katanya wajahku eksotik dan menarik, banyak laki-laki bakal berebut menjadi suamiku jika aku memang menginginkannya.

Setiap berbicara dan berkomunikasi dengannya hati semakin tenang, tidak banyak hal yang mas Sinyo sampaikan hanya memberikan bantuan doa dan semangat agar aku dapat melewati tantangan ini dengan baik (padahal aku selama ini menyebut masalah, sungguh cara pandang yang berbeda). Dia bahkan bercerita tentang masa lalunya yang lebih kelam dariku, yaitu pelecahan seksual yang dialami saat masih kecil dan remaja. Namun itu semua dapat dilalui dengan baik, tanpa satupun orang mengatahuinya. Perjuangan dia memepertahankan hidup dalam kesepian tanpa kawan atau sahabat sangat memotivasiku.

Kesepian yang kurasakan dapat dipahaminya dengan sempurna karena mas Sinyo juga pernah mengalami hal yang serupa, toh akhirnya dia dapat lolos. Kalau dia sanggup, tentunya aku juga. Bahkan Allah memberi karunia seorang sahabat yang baik tiada tara kepada mas Sinyo saat sudah tak menginginkannya, sungguh Allah menyimpan banyak misteri dalam hidup ini.

Apa yang dihadapi Mas Sinyo memang berbeda dengan tantangan yang aku harus taklukkan, namun sekarang ini aku sangat terbantu dengan semangat yang dia nyalakan. Aku yang sebelumnya memandang Bintang hanyalah sinar-sinar kecil yang tak berarti dibandingkan matahari dan bulan, lewat mas Sinyo aku menjadi tahu bahwa Bintang juga indah atas kerlap-kerlipnya saat menemani malam mencekam.

Ya, aku tetap ingin menjadi Bintang, walaupun tidak secerah penguasa siang, namun minimal aku bangga dan bersyukur bahwa Bintang juga dapat menerangi hatinya sendiri walau hanya satu atau dua kedip cahaya saja. Kedipan sinar itulah yang selalu aku harapkan tetap terjaga, guna menjalani hidup di alam fana ini. Walaupun aku mempunyai SSA, aku tetap ingin menjadi muslimah sejati, bukan berganti identitas sebagai lesbian. Kupandangi kisah lama sebagai pelajaran berharga, aku tahu jalan masih panjang penuh dengan halangan serta rintangan, namun selama nafas belum mencapai tenggorokan, insyaa Allah harapan menjadi lebih baik akan selalu ada 🙂

Tidak ada yang dapat kuberikan kepada mas Sinyo yang sudah mau menjadi kakakku, tempat curhatku hampir setiap hari, selain doa agar kelak mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, saat sang keabadian datang untuk kita semua.

Jawa Timur, September 2011

Bintang

(editing by Sinyo)

Review DWR: Oejank (Lelaki Muslim dengan SSA)

•June 23, 2011 • Leave a Comment

Nah setelah orang umum, sekarang lelaki muslim dengan SSA, mas Oejank (panggilan sesuai dengan permintaan beliau) men-Review buku DWR. Karena lewat sms jadi Sinyo lumayan kerepotan menulisnya, tetapi yang menarik banyak sekali kritik yang disampaikan jadi cikidul dah 🙂

Assalamu’alaikum mas Sinyo

Saya sudah baca bukunya, terima kasih banyak informasi yang bermanfaat untuk saya. Beberapa masukan dari saya adalah sebagai berikut:

  1. Warna kertas harusnya putih saja agar menarik dan mata kuat membaca dengan lama. (Komentar Sinyo: itu usulan dari penerbit dhe, kertas yang biasa dipakai untuk novel, supaya adem di mata, terima kasih sekali masukannya).
  2. Asal-usul tentang SSA atau ketertarikan sesama jenis tidak usah dibahas kalau untuk perubahan dan penyembuhan, mungkin perlu kalau untuk pengajar atau pembimbing. (Komentar Sinyo: berarti harus bikin dua buku yang berbeda ya? Satu untuk penyembuhan, kalau itu dianggap sakit, dan satu lagi untuk umum)
  3. Banyak paparan yang belum terkupas tuntas (tidak disebutkan secara terperinci).
  4. Ulas pekerjaan yang cocok buat lelaki SSA, supaya tidak terpancing untuk melakukan tindakan homoseksual (Komentar Sinyo, asli baru kali ini selama ngobrol dengan nara sumber ada yang usul tentang pekerjaan yang sesuai, tapi juga Sinyo bingung…memang apa yang sesuai…? Ada masukan?)
  5. Isi buku kurang lengkap dan kena sasaran (dalam sms tidak disebutkan apa saja yang kurang lengkap dan yang kurang mengenai sasaran ‘tembak’).
  6. Do’a dari orang-orang muslim apalagi para kyai dan ulama sangat diharapkan untuk menghadapi cobaan ini (Komentar Sinyo: Amiin ya Allah, semoga).
  7. Brosur tidak jelas, sebaiknya ganti hitam saja (Komentar Sinyo, heeh salah cetak, mesinnya sedang rusak, tapi kasihan kalau disuruh minta ganti…tak apalah..biar yang baca belajar ‘melotot dikit’ kekekeke).
  8. Kalau bisa disiapkan lembaga ‘biro jodoh’ untuk membantu lelaki ssa mendapatkan pendamping hidup. (Komentar Sinyo: Hm…lembaga bantuan untuk menolong lelaki dengan ssa di Indonesia belum ada, mungkin di situ ada program untuk mencarikan jodoh juga, tapi siapa yang mau memulai dan mendanai…..^_^, mau tahu saja pada ogah..kekekeke).
  9. Love full dan angkat jempol buat mas Sinyo, semoga sehat selalu 🙂 (Komentar Sinyo: amiin ya Allah, semoga dibalas dengan kebaikan yang banyak).

Wassalam
Oejank

“Dapat dibayangkan itu dari sms dengan kata-kata yang disingkat @_@….”

Oejank, 23 Juni 2011 via sms (tanya begini: mas ada pin BB tidak? , jawab Sinyo waa uang dari mana beli BB kekekeke).

Review DWR: Kak Jason (Gitaris ThePotter’s)

•June 23, 2011 • Leave a Comment

Setelah giliran para psikolog muda dan kalangan mahasiswa/pelajar memberikan review buku Dua Wajah Rembulan (Review dari para pembaca lain mana ya?), nah sekarang giliran salah satu artis ibukota, kak Jeremiah Jason Paul (Jason) gitaris band the Potter’s akan membeberkan perasaan hatinya setelah membaca buku tersebut. Dengan sedikit editing, ini dia review dari kak Jason, cikidul ya 🙂

Sebagai artis muda yang sedang naik daun, band the Potter’s tentu banyak penggemarnya. Hal itu juga berimbas kepada para personil termasuk saya (Jason) sang gitaris. Mungkin kebanyakan orang awam berpikiran bahwa  profesi artis (band) tentu amat bahagia dengan segala hal yang diperoleh. Uang berlimpah, tawaran manggung di sana-sini, wawancara sampai kebingungan menanggapi para fans.

Orang sering lupa bahwa saya dan teman-teman juga manusia biasa yang mempunyai masalah atau problem hidup. Kadang hal sedih menimpa kami baik secara bersama atau antar personil. Seperti yang saya alami beberapa waktu lama ini.

Sedih dan sakit hati menjadi satu, Alhamdulillah dengan dukungan serta doa dari teman-teman semuanya kembali membuatku semangat untuk terus menatap masa depan dengan lebih baik. Apalagi setelah saya membaca buku karangan mas Sinyo Menyonyo yang berjudul Dua Wajah Rembulan. Benar-benar mengokohkan hati untuk menjadi orang yang tegar dalam hidup ini.

Betapa berat kaum muslimin yang diberi cobaan oleh Allah mempunyai SSA (same sex attraction) namun banyak dari mereka tetap teguh berjalan di atas ridho Allah SWT. Sangat mengagumkan dan saya berdoa agar mereka semua akan selalu baik-baik saja. Lega rasanya setelah membaca buku DWR, memantabkan dan mengokohkan hati saya untuk selalu mensyukuri apa yang telah saya dapat dan menghadapi semua tantangan dengan sebaik-baiknya. Jika saya sedih maka akan saya ingat buku ini, karena masih banyak orang di luar sana yang ‘mungkin’ lebih patut untuk bersedih namun tidak mereka lakukan. Semangat.

Terima kasih buat mas Sinyo yang selalu menjadi temanku walau kita belum pernah bertemu. Ditunggu buku-buku selanjutnya 🙂

Jason, 16 Juni 2011

Review DWR: by Nina Sukotjo (Psikolog Muda di Jogjakarta)

•April 27, 2011 • 1 Comment

Sore ini Sinyo mendapat pesan lewat Facebook, adalah mbak Nina Sukotjo pengirimnya, psikolog muda yang saat ini bertugas di Puskesmas Cangkringan Jogjakarta. Beliau telah membeli dan membaca buku Dua Wajah Rembulan, dan berikut review mbak Nina dengan sedikit editing tanpa mengurangi makna.

“Sebagai orang yang belajar psikologi, otak saya memahami komunitas SSA (same-sex attraction) dengan berbagai teorinya.

Sebagai manusia, hati nurani saya menolak diskriminasi terhadap ‘keberbedaan’ mereka.

Namun sebagai orang Islam, iman saya tidak dapat membenarkan perilaku homoseksual.

Alhamdulillah, buku ini memberikan ‘insight’ bagi saya dalam bersikap terhadap komunitas muslim SSA yang ingin tetap bertakwa di jalan Allah SWT. Layak dibaca agar kita tidak terjerumus dalam penghakiman yang tak seharusnya.”

Nina Sukotjo (psikolog)
27 April 2011

Review DWR dari Salah Satu Psikolog Terkenal Surabaya

•April 22, 2011 • Leave a Comment

Sesuai dengan saran bang Dani (penulis) dan bang Jonru (penulis-blogger) agar Sinyo mengirim buku DWR ke orang-orang yang biasa review buku atau merensesinya (resensor) maka pekan ini Sinyo mulai hunting para resensor. Tetapi ternyata tidaklah mudah, selain orangnya super sibuk semua, para resensor juga harus Sinyo pilih yang sesuai dengan tema buku DWR. Ada yang belum memberi jawaban dari e-mail yang Sinyo kirim, tetapi Alhamdulillah petang ini Sinyo mendapatkan review dari salah satu psikolog terkenal di Surabaya. Karena beliau tak begitu ‘ahli’ dalam menulis maka berikut hasil rangkuman review beliau tentang buku DWR.

Bapak Dedi Prasetiawan, itulah nama lengkap psikolog klinis muda ini. Sejak mahasiswa sudah aktif membantu masyarakat dengan ilmu psikologi yang diperoleh dari Universitas Airlangga dan kemudian dilanjutkan di Universitas Surabaya. Selain itu pak Dedi juga menjadi member berbagai asosiasi yang berhubungan dengan psikologi, terakhir ini beliau dinas di RS.Dr.M.Soewandhi Surabaya.

Berikut ini sedikit review beliau setelah membaca buku DWR hasil karya Sinyo: (dengan sedikit edit dan tambahan tanpa mengurani makna).

Dalam pandangan banyak orang di dunia sekarang ini, terbagi menjadi dua kubu yang sangat ekstrim tentang homoseksualitas. Homoseksualitas dapat mengacu kepada (wikipedia):

  1. orientasi seksual yang ditandai dengan kesukaan seseorang dengan orang lain mempunyai kelamin sejenis secara biologis atau identitas gender yang sama (ssa-same sex attraction)
  2. perilaku seksual dengan seseorang dengan gender yang sama tidak peduli orientasi seksual atau identitas gender.
  3. identitas seksual atau identifikasi diri, yang mungkin dapat mengacu kepada perilaku homoseksual atau orientasi homoseksual.

Dua kubu tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kubu yang mati-matianan menghakimi dan menyamaratakan orang-orang dengan homoseksualitas adalah ‘berdosa’ (jadi baru mempunyai SSA juga dianggap berdosa padahal belum melakukan apa-apa yang berhubungan dengan seks) – pelakunya adalah sebagian besar masyarakat karena awam terhadap dunia homoseksualitas.
  2. Kubu yang mati-matian membela dan memperjuangkan orang-orang yang mempunyai homoseksualitas, sehingga semua orang yang menentang dianggap mengidap gangguan jiwa dan dipenuhi prasangka buruk serta tidak paham agama. – palakunya adalah seluruh komponen yang mendukung LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Trangender)

Setelah membaca buku Dua Wajah Rembulan, maka buku ini dapat mewakili pandangan ketiga yang menempatkan homoseksualitas sesuai dengan pandangan Islam, psikologi dan moral secara tepat.

Bahwa tidak semua orang dengan homoseksualitas itu ‘bersalah’, karena tindakan homoseks (secara biologis) dapat dilakukan tanpa memandang apakah seseorang itu mempunyai ketertarikan sesama jenis. Terutama laki-laki yang dapat berhubungan seks dengan cara apapun dan dengan siapapun. Orang yang tertarik sesama jenis (ssa) namun tidak melakukan tindakan homoseks maka kita tidak dapat menyamakan bahwa dia juga ‘berdosa’ telah melakukan tindakan kaum Luth.

Buku ini berusaha memandang bahwa selama seseorang masih memegang teguh iman kepada Islam, maka walaupun dia tertarik kepada sesama jenis maka akan dapat melaluinya sebagai cobaan hidup yang diberikan Allah SWT.

Bahkan bagi orang-orang yang telah pernah terjatuh dalam tindakan homoseksual maka masih ada kesempatan untuk memohon ampun dan bertaubat sebelum nafas sampai di tenggorokan.

Buku yang bagus untuk menjadi bacaan masyarakat luas agar dapat mengetahaui seluk-beluk dunia homoseksualitas tanpa menghakimi terlebih dahulu. Dalam bentuk paparan yang mudah dicerna, semoga akan mencerahkan banyak orang dalam memandang orang-orang muslim yang mempunyai ketertarikan sesama jenis tetapi ingin tetap di jalan Allah, seperti ingin memahami sisi gelap rembulan yang tersembunyi.

Dedi Prasetiawan

Psikolog Klinis (Surabaya – 22 April 2011)